Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility

Written by radik on . Hits: 1449

mutiara ramadhan

HIKMAH RAMADAN

[DAY 22]

KUTUB

Ada dua kutub yang bertolak belakang. Yaitu keimanan dan kesesatan. Keimanan dibimbing oleh wahyu. Sementara kesesatan didorong oleh hawa nafsu. Dua kutub yang sama sekali berbeda.

Hawa nafsu akan menyeret seseorang pada kebinasaan. Namun, Allah maha adil. Dia menurunkan wahyu untuk membimbing manusia. Agar manusia tidak sesat dan binasa.

Dikatakan bahwa, “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan (agama itu). Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Jatsiya: 18)

Meski Allah telah menurunkan wahyu untuk memberikan bimbingan dan menghindarkan manusia dari kesesatan. Namun, Sebagian orang tetap mengikuti hawa nafsu. Bahkan mereka menjadikan hawa nafsu itu sebagai tuhan.

Dikatakan bahwa, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Q.S. Al-Furqan: 43)

Hal ini karena manusia-manusia tersebut berpaling dari wahyu. Meski cahaya wahyu telah datang. Mereka justru menghindar, dan berpaling dari cahaya wahyu itu.

Disebutkan bahwa, “Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka. Tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Q.S. Al-Mu’minun: 71)

Terhadap orang-orang seperti itu, Allah akan menutup hati mereka. Karena mereka telah memilih untuk berpaling dari kebenaran. Meski sebenarnya mereka telah mengetahui kebenaran itu telah datang. Maka, tidak ada lagi yang dapat memberi mereka petunjuk.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya. Dan meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah?” (Q.S. Al-Jatsiya: 23)

Dijelaskan pula di tempat lain bahwa, “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (Q.S. Ar-Ra’d: 37)

Di ulasan-ulasan sebelumnya. Kita telah bicarakan panjang lebar tentang posisi hawa nafsu dalam kehidupan. Dan dari diskusi itu, kita bisa ambil kesimpulan bahwa, hawa nafsu akan mengantarkan manusia pada kehancuran di dunia, dan siksa di akhirat.

Dan dalam ulasan ini, kita sedikit mengerti. Bahwa, agar kita tidak terseret dalam kesesatan karena mengikuti hawa nafsu, kita harus mengikuti cahaya wahyu yang diturunkan Allah kepada kita. Supaya kita tetap berada di jalan iman.

Jika kita kaitkan dengan ibadah puasa Ramadan. Apa yang bisa kita petik dari ulasan singkat ini? Tentu, bahwa puasa Ramadan adalah pelatihan untuk menjinakkan hawa nafsu. Terutama terhadap hal-hal yang dilarang oleh Allah. Agar kita tidak terjerumus dalam kesesatan dan siksa.

Puasa Ramadan adalah miniatur. Jika ketika puasa kita harus menahan diri dari makan. Maka, dalam konteks yang lebih luas, kita harus menahan diri dari berbagai larangan Allah. Larangan Allah yang akan merugikan diri sendiri maupun orang lain jika kita menerobos. []

Catatan Ramadan M. Khusnul Khuluq, 2021.

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Tulungagung

Jl. Ir. Soekarno - Hatta No. 117
Balerejo - Kauman - Tulungagung

Telp: 0355-336516
Fax: 0355-336121

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.